Sabtu, 29 November 2025

Sahabat (Puisi)


Ia hadir bukan karena diminta
tapi karena rasa percaya yang tumbuh tanpa jeda
Dalam tawa kita merangkai cerita
dalam duka kita saling menjaga.

Sahabat adalah bahu tanpa syarat
yang mengerti tanpa perlu banyak kata
Aku tahu luka yang tak pernah kau tunjukkan
dan tetap tinggal meski dunia menjauhkan

Jika hari-hari terasa gelap
engkau menjadi cahaya yang tak pernah padam
Jika dunia terasa sempit
engkau membuka ruang untukmu bernapas lebih dalam

Sahabat, bukan sekadar hadir
tapi menguatkan tanpa meminta balas
Di setiap pertemuan dan perpisahan
Engkau tetap menjadi rumah bagi hatiku yang lelah

Ujian Terakhir dan Secarik Kertas (Cerpen)

    Raka, siswa paling cerdas di SMP Bintang, selalu menduduki peringkat pertama. Namun, ia tidak pernah benar-benar merasa puas; tekanan untuk selalu sempurna membuatnya gelisah. Ujian Akhir Semester (UAS) kali ini adalah penentu apakah ia bisa mendapatkan beasiswa impiannya. Aula ujian terasa dingin, hening, hanya ada suara gesekan pensil.

  Soal matematika kali ini sangat sulit, bahkan untuk Raka. Dua soal terakhir membuatnya buntu. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Saat ia menghela napas, matanya tak sengaja menangkap gerakan dari bangku depan. Dinda, teman sebangkunya yang dikenal sering mendapat nilai pas-pasan, dengan cepat menyembunyikan secarik kertas kecil di bawah lengannya. Raka tahu itu adalah contekan.

  Saat pengawas ujian, Bu Ratna, berbalik ke papan tulis, Dinda secara tak seng sengaja menjatuhkan kertas itu ke lantai. Kertas itu meluncur, tepat berhenti di bawah sepatu Raka. Ini adalah kesempatan emas. Dalam kertas itu mungkin ada jawaban untuk dua soal yang memusingkannya. Jantung Raka berdetak kencang. Jika ia menggunakan ini, ia pasti mendapat nilai sempurna dan beasiswa aman. Namun, ia akan mengkhianati prinsip kejujuran yang selalu ia junjung.

  Raka menunduk, tangannya menyentuh kertas itu. Tepat saat jari-jarinya akan meraih, ia teringat kata-kata ayahnya: “Nilai sempurna yang didapat dengan kecurangan tidak akan pernah memberimu kedamaian sejati, Nak.” Raka menarik tangannya. Ia melihat Dinda melirik cemas ke arahnya. Alih-alih mengambilnya, Raka dengan gerakan cepat menendang pelan kertas itu hingga terdorong jauh ke bawah meja pengawas.

  Dinda terkejut dan sedikit pucat, tapi ia mengerti. Raka kembali ke soalnya, memutuskan untuk menyerahkan lembar jawabannya apa adanya. Ia meninggalkan dua soal itu kosong, menerima kenyataan bahwa nilainya mungkin tidak sempurna.

  Dua minggu kemudian, hasil UAS diumumkan. Raka mendapat nilai 95, ia kehilangan 5 poin dari dua soal yang kosong. Ia masih menduduki peringkat pertama, tetapi selisihnya sangat tipis. Bu Ratna memanggilnya ke depan.

  “Raka, kamu tahu kamu bisa menjawab dua soal itu, bukan?” tanya Bu Ratna lembut. Raka mengangguk. Bu Ratna lalu tersenyum. “Saat ujian, saya melihat ada kertas jatuh. Saya perhatikan kamu tidak mengambilnya, melainkan mendorongnya jauh dari jangkauanmu. Kejujuranmu, Nak, jauh lebih berharga daripada nilai 100.”

  Raka akhirnya mendapatkan beasiswa itu. Bukan karena nilainya yang nyaris sempurna, tetapi karena rekomendasi khusus dari Bu Ratna yang menyoroti integritas dan kejujurannya yang teguh. Raka belajar, bahwa nilai sejati dari pendidikan adalah karakter, bukan sekadar angka.


Monokrom (Lirik Lagu)

 Lembaran foto hitam-putih

Aku coba ingat lagi warna bajumu kala ituKali pertama di hidupkuManusia lain memelukku
Lembaran foto hitam-putihAku coba ingat lagi wangi rumah di sore ituKue cokelat, balon warna-warniPesta hari ulang tahunku
Di mana pun kalian beradaKukirimkan terima kasihUntuk warna dalam hidupku dan banyak kenangan indahKau melukis aku
Lembaran foto hitam-putihKembali teringat malam, kuhitung-hitung bintangSaat mataku sulit tidur, mm-mmSuaramu buatku lelap, mm-mm
Di mana pun kalian beradaKukirimkan terima kasihUntuk warna dalam hidupku dan banyak kenangan indahKau melukis aku
Kita tak pernah tahuBerapa lama kita diberi waktuJika aku pergi lebih dulu, jangan lupakan akuIni lagu untukmu, ungkapan terima kasihku
Lembar monokrom hitam-putihAku coba ingat warna demi warna di hidupkuTak akan ku mengenal cintaBila bukan kar'na hati baikmu

Sempurna - Andra and the Backbone (Lirik Lagu)

 Kau begitu sempurna

Di mataku kau begitu indahKau membuat diriku akan slalu memujamu
Di setiap langkahkuKu kan slalu memikirkan dirimuTak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu
Janganlah kau tinggalkan dirikuTakkan mampu menghadapi semuaHanya bersamamu ku akan bisa
Kau adalah darahkuKau adalah jantungkuKau adalah hidupkuLengkapi dirikuOh sayangku kau begituSempurna Sempurna
Kau genggam tangankuSaat diriku lemah dan terjatuhKau bisikkan kata dan hapus semua sesalku
Janganlah kau tinggalkan dirikuTakkan mampu menghadapi semuaHanya bersamamu ku akan bisa
Kau adalah darahkuKau adalah jantungkuKau adalah hidupkuLengkapi dirikuOh sayangku kau begituSempurna Sempurna
Janganlah kau tinggalkan dirikuTakkan mampu menghadapi semuaHanya bersamamu ku akan bisa
Kau adalah darahku Kau adalah jantungku Kau adalah hidupkuLengkapi dirikuOh sayangku kau begitu
Kau adalah darahku Kau adalah jantungku Kau adalah hidupkuLengkapi dirikuOh sayangku kau begituSayang ku kau begituSempurna Sempurna

Untukmu, Sang Penerang (Puisi)

 

Di setiap pagi yang masih basah embun

Kau datang membawa matahari

bukan di tangan

tapi di dalam tutur yang menumbuhkan arti


Langkahmu pelan, namun pasti

Menyusuri ruang penuh tanya

Tempat mimpi-mimpi kecil

Belajar menemukan sayapnya


Kau bukan sekadar pengajar

Kau penjaga api pengetahuan

yang tak pernah padam

Meski malam paling panjang datang


Dalam sabarmu, kami belajar bertahan

Dalam tegasmu, kami belajar arah perjalanan

Dalam kasihmu, kami mengerti

bahwa ilmu lahir dari ketulusan hati


Guru,

Engkaulah taman tempat kami bertumbuh

Jembatan yang mengantar kami

pada masa depan yang tak pernah kami duga


Terima kasih

Karena dari matamu kami belajar melihat dunia

dengan lebih terang


Sahabat (Puisi)

Ia hadir bukan karena diminta tapi karena rasa percaya yang tumbuh tanpa jeda Dalam tawa kita merangkai cerita dalam duka kita saling men...